Sunday, October 18, 2020

Pilgub Kepri 2020 – Angka “BRUTAL dan Berdarah Darah” di Tanjungpinang

 

Calon gubernur Kepri, Isdianto dan Suryani (Credit to Suryani)

Di negara maju, kalau angka “polling” atau suvey tertinggal “double digit” atau 10% ke atas, maka dikatakan “brutal.”

Disebut apa, jika tertinggal “triple digit” atau 100%?

Angka yang “berdarah darah” namanya, atau “bloodbath.” Juga disebut “mandi darah.”

Dalam tujuh hari terakhir ini, “traffic medsos” di Tanjung Pinang, ibukota propinsi Kepri menunjukkan angka:

- Isdianto – Suryani, 100%

- Ansar Ahmad – Marlin, 0%

- Soerya Respationo – Iman, 0%

Di negara maju, jika putra daerah mendapat angka 0% di kota kelahirannya adalah pertanda “petaka” politik.

Kenapa?


Angka yang “brutal dan berdarah darah”

Sebagai putra daerah, berarti anda lahir di kota itu. Otomatis anda punya:

- teman dari TK, SD, SMP dan SMA

- punya tetangga yang mengenal anda.

- punya teman bermain.

Angka 0% berarti PENTUNGAN besar atau anda DIGEBUK habis dari orang orang yang mengenal anda! Ada yang salah dengan diri anda.

TEPONGKENG kata teman saya yang orang Melayu pulau Penyengat!!

BENAR, almarhum M. Sani kalah di tempat kelahirannya tahun 2005. Tapi tidak 0%, angkanya yaitu 49.1% Vs 45.5%.

Kemudian MENANG dua kali berturut turut di Karimun, yaitu tahun 2010 dan 2015. Angka kemenangannya sangat FANTASTIK.

Untuk Pilpres di era reformasi, TIDAK ada presiden yang kalah di tempat kelahirannya. SBY dan Jokowi menang dua kali berturut turut di Jatim dan Jateng.

Kira kira ada sebab lain dari angka 0%?

-------------------------------------------

Silahkan baca media media online, diantaranya: wartakepri; batamclick; lintaskepri dan marwahkepri, dimana hampir semuanya pernah punya berita dengan judul yang hampir sama:

- Milenial Tanjungpinang Salut Isdianto Tak Haus Jabatan

Kata “Tak HAUS Jabatan” menjadi titik fokus perhatian milenial Tanjungpinang dan menjadi fokus judul berita.

Dari sini orang awam BISA menarik kesimpulan bahwa paslon gubernur lain adalah paslon SERAKAH atau TAMAK!!

# Anda CUMA pengemis suara rakyat, tak ada yang perlu anda banggakan.

## Bersambung!!  

Tuesday, October 13, 2020

Pilwako Batam 2020 – Siapakah Abdul Basyid?

Photo Abdul Basyid dan Curriculum Vitae
(Credit to Abdul Basyid)

Iseng membaca isi medsos penduduk Batam secara random. Ada kalimat yang menyentak:

- Siapakah Abdul Basyid? Ada yang tahu?

Rupa rupanya banyak netizen Batam tidak mengetahui siapa sosok calon wakil walikota Batam, Abdul Basyid.

Untuk saya sendiri, hal seperti ini sangat mengejutkan, karena Abdul Basyid adalah:

- Ketua DPW PKB Kepulauan Riau.

- Putra daerah kota Batam (dari Kecamatan Belakang Padang).

Kemudian saya mencek traffic medsos, membandingkan antara calon wakil walikota Abdul Basyid dan Amsakar Achmad. Hasilnya (lihat grafik):

- Basyid 39%

- Amsakar 61%

Apa makna dari angka angka ini?


Traffik medsos antara calon wakil walikota Batam
Basyid Vs Amsakar

Dari angka 39%, boleh dapat dikatakan bahwa Abdul Basyid “belum” dikenal oleh calon pemilih kota Batam.

Sebenarnya syah syah saja, Amsakar Achmad lebih dikenal, karena beliau adalah wakil walikota saat ini.

5 tahun berkuasa menyebabkan Amsakar selalu tampil di publik dan kemudian diliput oleh berbagai media.

Namun demikian, angka 39% untuk Basyid adalah angka “mati” dan jika hal ini terus bertahan, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi keterpilihan dirinya sendiri, Abdul Basyid yang berpasangan dengan Lukita Tuwo.

Masih ada waktu dua bulan untuk secara agressif memperkenalkan diri dan menyebarluaskan program programnya ke tengah masyarakat Batam.

Rakyat berharap pesta demokrasi berlangsung dengan persaingan ketat, bukan sebuah “pertandingan” yang tidak berimbang, dimana satu calon terlalu “superior” dibandingkan dengan calon lainnya.

Kita tunggu !!

Friday, October 9, 2020

Pilkada Bintan 2020 – Pengalaman Vs Amatiran – bagian 2

Grafik - Traffic medsos pilkada Bintan selama 7 hari terakhir.

Perlu saya ingatkan bahwa traffic medsos bukan survey. Barangkali, dapat kita samakan dengan “kerumunan” massa kampanye secara fisik.

Artinya, jumlah kerumunan massa, baik di saat kampanye maupun di “traffic medsos,” TIDAK menjamin kemenangan.

Perlu strategi berikutnya, bagaimana perhatian masyarakat di “medsos” serta kerumunan massa saat kampanye itu menjadi massa yang memilih calon yang sedang mereka amati atau perbincangkan.

---------------------------------------------------

Berdasarkan traffic medsos, pasangan Apri – Kurniawan bisa saja dikalahkan oleh “kotak Kosong,” seperti tulisan lalu. Silahkan baca:

Pasangan Apri – Roby DIKALAHKAN oleh Kata “Pilkada Bintan” - bagian 1

Saya kembali melihat “traffic medsos” selama 7 hari terakhir, dari tanggal 2 Oktober sampai 9 Oktober 2020.

Hasilnya?


Dukungan masyarakat Tionghoa Bintan untuk pasangan
Alias Wello – Dalmasri Syam (credit to Batam Pos).

100% atau seluruh pengguna medsos yang tertarik dengan Pilkada Bintan 2020 HANYA memperbincangkan pasangan Alias Wello dan Dalmasri.

Bagaimana dengan pasangan yang menjadi lawan Alias Wello dan Dalmasri?

Menariknya, sepintas melihat status medsos, kata kata yang ditemui untuk menggambarkan pasangan satunya lagi adalah:

- calon karbitan

- anak kemaren sore

- bocah bau kencur

- nepotisme

- politik dinasti

- rakus

- tamak

- macam takde orang lain.


Kira kira, apa maknanya semua ini?

------------------------------------------------------------------

Pengguna medsos menganggap bahwa pasangan Alias Wello dan Dalmasri ibarat “mastero” yang sedang mempraktekkan jurus jurus politik tingkat tinggi.

Bukti hasil jurus politik tingkat “maestero” diantaranya adalah:

- berhasil mendapatkan rekomendasi dari PDIP saat “injury time”

- memperoleh dukungan dari tokoh masyarakat Tionghoa di Bintan.

- mendapatkan “restu” dari Huzrin Hood, tokoh pembentukan provinsi Kepri sekaligus mantan Bupati Kepri (Bintan).

Kemudian, tentu anda bisa menebak siapa yang dimaksud dengan kata kata politik dinasti, nepotisme dan calon karbitan.

Tak sampai di situ, netizenpun mencari jejak jejak janji dan realisasi selama Apri Sujadi menjadi Bupati Bintan.

Perang” data dan informasipun terjadi. Calon pemilih tinggal memilah milah mana yang hanya janji kosong, mana yang ada buktinya, dan mana pula yang menguntungkan masyarakat.

Sampai hari H, akan terjadi kejutan kejutan. Sebagai penonton, mari kita menikmati ini sebagai bagian dari proses demokrasi!!


# Bersambung

Tuesday, October 6, 2020

Kenapa Harga Bunga Monstera obliqua Ratusan Juta Rupiah?

Bunga Monstera obliqua, harga US$ 400 (Rp 6 juta)

Baca baca sosmed, ada harga bunga sampai ratusan juta rupiah di Indonesia. Kok ada yang mau merogoh kocek sebanyak itu demi bunga?

Saya mencoba “searching” harga bunga Monstera obliqua di beberapa negara, kawasan atau benua:

- Philippina

- Eropa

- Karibia

Harganya sangat bervariasi, kisaran harga antara US$ 400 sampai US$ 3000, atau kalau dirupiahkan Rp 6 juta sampai Rp 45 juta.

Untuk kebanyakan orang, di Amerika Serikat sekalipun, harga ini SANGAT tinggi hanya demi sekuntum bunga.

Rasa rasanya TIDAK ada orang yang kami kenal memiliki bunga seharga Rp 45 juta atau lebih mahal.

Pertanyaannya kemudian: Kenapa bunga Monstera obliqua, sangat mahal? Ada apa?


Monstera obliqua yang dihargai US$ 1.400 (Rp 20 juta)

Jawaban kenapa harga bunga Monstera obliqua sangat mahal adalah sebagai berikut:

- sangat langka

- hanya 17 kali ditemui di hutan asalnya

- unik, bisa mengambil makanan (nutrien) dari udara dan air hujan

- hanya bisa dibeli dari pemilik nursery atau collector bersertifikat.

- dijual dengan asuransi dan surat garansi keaslian bunga.


Asal bunga ini adalah Amerika Latin, termasuk negara negara:

- Meksiko

- Peru

- Panama

- Costa Rica

- negara negara sepanjang sungai Amazon


Apakah anda tertarik membeli bunga Monstera obliqua? Berapa harga yang ingin anda beli? US$3.000 (Rp45 juta)?

Thursday, October 1, 2020

Pilgub Kepri 2020 – Efek Suryani Terhadap Calon Pemilih di Batam

Acara wisuda salah seorang anak cawagub, Suryani
(Credit to Suryani)

Saya berasumsi bahwa pasangan Soerya – Iman akan mendapat perhatian tertinggi masyarakat Batam. Alasannya karena memang “basis” mereka adalah Pulau Batam.

Tapi, asumsi saya ternyata SALAH, setelah melihat “traffic” di medsos. Masyarakat Batam lebih banyak memperbincangkan pertahana, atau pasangan Isdianto – Suryani.

Dari diagram di bawah, dapat dilihat perhatian calon pemilih Batam kepada Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri berdasarkan persentase, selama 7 hari terakhir:

1) Isdianto – Suryani : 44%

2) Ansar – Marlin : 38%

3) Soerya – Iman : 18%


Kira kira, apa penyebabnya? 


Traffic medsos di Batam,
Isdianto – Suryani dapat perhatian tertinggi

Suryani dikenal sebagai seorang politisi, ustadzah dan ibu yang mengantarkan anaknya ke salah satu universitas “top” di Indonesia. Barangkali ini semacam “role model” bagian masyarakat Batam.

Baca baca di sosmed secara random, ada yang merasa “bangga” karena tetangganya, Suryani bisa menjadi calon wakil gubernur Kepri.

Sebenarnya, selain faktor Suryani, jejak jejak pembangunan yang dilakukan Isdianto sebagai plt maupun gubernur Kepri bisa disaksikan dan dinikmati oleh penduduk Batam.

Diantaranya adalah pembangunan jalan di depan patung kuda, Sei Panas.

Rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Batam – Bintan juga “menyentak” masyarakat Batam.

Pertanyannya kemudian, apakah ini akan menyebabkan posisi pertahana aman?

Jawabannya, tidak ada yang pasti dalam dunia politik. Dinamika terus mengalir sampai hari “H.”

Tiap pulau atau tiap tiap kabupaten memiliki dinamikanya sendiri. Mari kita nikmati ini sebagai bagian dari proses demokrasi.

Stay tune!

# Perlu diingatkan: Saya TIDAK mengajak anda memilih salah satu pasangan.

Wednesday, September 30, 2020

Kata Insya Allah Dalam Debat Donald Trump Vs Joe Biden

Debat yang tegang antara Donald Trump Vs Joe Biden
(Credit to The Hill)

Debat pertama Pilpres USA 2020 antara pertahana Donald Trump Vs Joe Biden barusan saja selesai.

Diantara hal yang menarik adalah pemakaian kata “Insya Allah” oleh Joe Biden. Kata itu muncul ketika Donald Trump ditanya soal jumlah pajak penghasilan yang dia bayar ke negara.

Kira kira dialognya sebagai berikut:

Moderator: Apakah anda membayar pajak penghasilan cuma sebesar US$750 dalam dua tahun terakhir ini?

Donald Trump (bohong): Tidak. Aku akan perlihatkan dokumennya nanti.

Joe Biden (nyeletuk): Kapan? Insya Allah?


Bagaimana respon orang Amerika terhadap pemakaian kata Insya Allah ini?

-----------------------------------

Setelah debat usai, kata “Insya Allah” menjadi ramai diperbincangkan di berbagai media, mainstream maupun media sosial.

Berbagai komentarpun muncul baik positif maupun negatif. Positifnya, ini dianggap sebagai tonggak sejarah bahwa umat Islam akan semakin masuk dan semakin terlibat dalam dunia politik di Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, muslim Amerika mulai menyadari bahwa agar suara didengar, salah satunya dengan cara memegang jabatan jabatan politik.

Sampai saat ini, diantaranya yaitu sudah ada dua orang Islam yang menjadi anggota Kongres, satu orang pernah menjadi ketua partai Demokrat di tingkat propinsi, satu orang calon gubernur Michigan.

Bernie Sanders, senator dan calon presiden dari partai Demokrat, kalah melawan Joe Biden di primary adalah diantara tokoh yang mempromosikan umat Islam untuk terjun di dunia politik praktis.

Negatifnya, setelah mengetahui bahwa padanan kata Insya Allah itu adalah “God willing,” menyebabkan kata ini mulai dipakai untuk tujuan tujuan “sarcasm.”

Masih ada dua debat sisa Donald Trump Vs Joe Biden. Kita tunggu kejutan apa lagi nantinya.

Stay tune.

Wednesday, September 23, 2020

Pilgub Kepri 2020 – Bisakah Soerya–Iman Mengalahkan Pertahana?

Calon gubernur Kepri 2020 (credit to Seputar Riau)

Ada dua berita yang menarik perhatian dalam pertarungan merebut kursi gubernur Kepri:

1) Ketua DPW Nasdem, Rudi mentargetkan 10% suara untuk Ansar – Marlin di Karimun (Surya Kepri, 26 July 2020).

2) “Pilkada Kepri 2020: Soerya Yakin Menang Mutlak di Karimun” (batamnews, 17 September 2020).

Kabupaten Karimun sangat penting dalam Pilkada Kepri, karena jumlah pemilih kabupaten ini berada di urutan kedua setelah Batam.

Selanjutnya, apa makna dari dua berita di atas?

----------------------------------------

Bisa diartikan bahwa Rudi sudah “menyerah kalah” sebelum bertanding. Istrinya TIDAK bisa bersaing di Karimun, kampung halamannya sendiri.

Kemudian, berita kedua, Soerya Respationo “yakin” menang di Karimun.

Mungkin anda tersentak kaget: Masa sih?

Apa penyebab Soerya merasa yakin, bahkan yakin menang mutlak di Karimun?

Padahal, publik tahu persis, Isdianto (incumbent) adalah putra daerah Karimun.

Bukan itu saja, karier Isdianto boleh dikatakan diawali di Karimun. Mulai dari lurah, camat sampai memegang jabatan di beberapa Dinas (kepala Dinas).

----------------------------------------------

FAKTA BAHWA Soerya bersama Nyat Kadir menang di Karimun dalam Pilgub Kepri tahun 2005.

Persantase kemenangan adalah 49,1%. Sementara saingan terdekat, Ismeth – M.Sani hanya memperoleh angka 45,5%.

Angka ini cukup “significant,” mengingat yang dilawan adalah incumbent (Ismeth Abdullah) dan Bupati sekaligus putra daerah Karimun (M Sani).

Jika saja Soerya bisa mengulang kemenangan di Karimun tahun 2005, apa implikasinya dalam Pilgub 2020?

Pasangan Soerya – Iman berpeluang besar “memecah” tradisi Pilgub Kepri yang selalu dimenangkan oleh Petahana.

Kenapa bisa begitu?

Tunggu jawabannya di tulisan tulisan berikut.

Stay tune !!!