Sunday, August 9, 2020

Apakah Pilwako Tangsel Sebagai “Test Case” Pilpres 2024?


Sara, Prabowo dan Muhammad

Pada posting yang berjudul “Cawagub DKI – Cerdas, Cantik dan Nasrani,” ada saya sebutkan bahwa berdasarkan exit poll Pilpres 2019, suara 52% umat Islam tidak mengantarkan Prabowo ke Istana.

Sementara itu, Jokowi menang dengan komposisi suara 48% umat Islam dan 90% non-muslim.

Suara non-muslim naik pesat, dari 70% tahun 2014, menjadi 90% di tahun 2019. Kenaikan yang fantastis.

Menyimak pelaksanaan KLB Partai Gerindra, dapat dibaca, Prabowo ingin “meng-kopi:”
- Formula kemenangan Jokowi: 48% Islam + 90% non-muslim pada Pilpres 2024 nanti.

Apa kaitannya dengan Pilwako Tangsel?
------------------------------------------

Hasil poling, RMOL Banten


Tiga pasangan yang akan bertarung dalam Pilwako Tangsel adalah:
- Muhammad dan Rahayu Saraswati
- Siti Nur Azizah dan Ruhama Ben
- Benyamin dan Pilar Saga.

Adalah fakta, hanya Rahayu Saraswati satu satunya yang Nasrani. Dengan demikian, bukan hal mustahil, pasangan Muhammad – Rahayu akan meraup 100% suara non muslim.

Kalau angka 100% terlalu optimis, adalah hal yang biasa biasa saja, jika Muhammad – Rahayu kemungkinannya dapat suara di atas 50% atau 70% dari non muslim.

Bukan hanya mengandalkan beragama Nasrani, Rahayu lebih jauh sudah melakukan berbagai upaya untuk meraih suara maksimal:
- program kerja untuk minoritas
- pemberdayaan perempuan
- pendekatan dengan “buzzer” yang mendukung Jokowi

Bagaimana dengan suara dari umat Islam?

Ini pertarungan 3 pasangan, maka untuk menang, TIDAK perlu seperti Jokowi, yaitu butuh suara 48% dari umat Islam.

Muhammad – Rahayu memerlukan dukungan umat Islam “cukup” 35% saja.

Hanya sekedar info, dari Poling yang dilakukan RMOL Banten, Muhammad – Rahayu mendapatkan angka 60%+
Meskipun ini bukan poling “serius,” akurasinya diragukan, tapi bisa ditarik kesimpulan:
- Pasangan Muhammad - Rahayu sudah dikenal luas masyarakat.
- Kampanye program program kerja, baik langsung dan melalui media (mainstream dan sosial) akan mudah dilakukan.

Jika Muhammad – Rahayu MENANG, maka rumus 48% + 90% dengan modifikasi dan varian variannya akan diaplikasikan di Pilpres 2024.

Mari kita tunggu!!

Saturday, August 1, 2020

Kenapa Vaksin Covid-19 Harus HALAL?

Vaksin yang pernah menjadi kontraversi

Di Amerika, 50% orang tidak disuntik vaksin flu, sehingga sekitar 9.000 (sembilan ribu) orang mati tiap tahun karena influenza.

Jika, vaksin Covid-19 selesai uji coba, berdasarkan survey, ada sekitar 25% sudah menyatakan TIDAK mau divaksin.

Alasannya apa?

Banyak alasannya, terutama AGAMA. Banyak sekte (aliran) agama yang ada di Amerika keberatan dengan vaksinasi.
------------------------------------------------------

Banyak rumah sakit di Amerika, termasuk tempat istri bekerja berusaha mencari masukan tentang pelayanan kesehatan yang sesuai dengan agama agama yang ada.

Sekitar 5 tahun lalu, istri pernah diundang untuk memberikan briefing tentang bagaimana prosedur dalam agama Islam untuk melayani pasien.

Sekarang?

Jika anda berobat di rumah sakit tempat istri bekerja, anda bisa minta formulir untuk dirawat secara agama yang anda anut.

Jika anda Islam? Maka anda akan dirawat sesuai dengan ajaran Islam, dan obat obat yang disuntikkan ke dalam tubuh anda 100% HALAL!.

Obat, umumnya diimpor dari Turki dan Syria.

---------------------------------------------------------------

Terus, apa hubungannya dengan Vaksin Covid-19 yang dari China?

Berdasarkan tulisan seorang dokter di Indonesia bahwa vaksin China adalah vaksin yang menggunakan virus (Covid-19) yang “dilemahkan” atau dimatikan.

Problemnya, berarti vaksin ini memakai media tertentu, nah media itu bisa saja dari bahan yang “haram.”

Karena Indonesia ikut dalam uji coba (clinical trials), maka HARUS minta “media” virusnya dari bahan HALAL.

Kenapa MUI atau ulama harus dilibatkan dari awal?

Agar mereka (MUI dan para ulama ini) tahu persis:
- bahan untuk media virus adalah bahan HALAL
- efek samping vaksin kecil atau TIDAK membahayakan bagi manusia. Lebih banyak manfaatnya

Hal ini SANGAT penting, sehingga MUI bisa langsung menyediakan Sertifikat Halal, jika uji coba selesai.

Dan para ulama bisa menyebarkan ke umat bahwa vaksin sangat bermanfaat dalam “memerangi” Covid-19.

Semoga bencana Covid-19 bisa segera diatasi!

# Hanya sekedar mengingatkan bahwa MUI pernah TIDAK mengeluarkan sertifikat halal untuk vaksin MR tahun 2017-2018 lalu.

Friday, July 24, 2020

Pilgub Kepri 2020 – Kudeta Politik yang Gagal Total


Isdianto unggul, hasil survey terkini

Upaya para pesaing untuk membentuk koalisi besar atau memborong semua partai yang ada dapat diibaratkan sebagai upaya “kudeta” politik di Pilgub Kepri 2020.

Kudeta politik juga termasuk mencegah PKS dan Hanura untuk mendukung pasangan “incumbent” dengan Suryani, seorang politisi dan ustadzah handal.

Disamping itu, opini, distorsi dan hoax di-pabrikasi dan disebarluaskan melalui berbagai media, seolah olah “incumbent” batal berlaga karena hasil survey rendah.

Padahal dari keseluhan pilkada di era reformasi, fakta menunjukkan:
- 70% incumbent menang Pilkada di Indonesia
- 100% incumbent MENANG di Pilgub Kepri
- incumbent TIDAK pernah pada posisi rendah di survey (silahkan saja cek).
-----------------------------------------------------

Publik bertanya tanya: “Ada apa?.” Apa yang sebenarnya telah terjadi?
-----------------------------------------------

Jawaban sederhananya adalah: TAKUT….. Takut bersaing secara “fair” dan bermartabat.

Dalam “ketakutan,” cara terbaik adalah main kayu, main kudeta politik.

Pada tanggal 24 Juli 2020, akhirnya keluar pernyataan dari DPW PKS Kepri bahwa Presiden PKS pusat, Muhammad Sohibul Iman sudah secara resmi mendukung Isdianto – Suryani.

Rekomendasi disampaikan secara verbal (melalui telphon), tinggal menunggu rekomendasi tertulis.

Hampir bersamaan, pada tanggal 27 Juli 2020, presiden Jokowi akan melantik Isdianto sebagai gubernur definitif Kepri.

Meskipun Pilgub Kepri akan berlangsung 5 bulan ke depan, arti politik dari pelantikan ini bisa dimaknakan bahwa presiden Jokowi “menginginkan” pembangunan Kepri dilanjutkan oleh “incumbent.”
------------------------------------------------------

Arti lainnya apa?
- Kudeta politik Gagal total
- Ada restu terselubung dari RI1 untuk incumbent

Atas kenyataan ini, akan semakin kentara kepanikan para penantang incumbent. Dalam beberapa hari ini, tanda tanda panik ini terlihat di media sosial.

Para pendukung calon nepotisme seperti “orang mabuk” ber-argumentasi di medsos, diantaranya:

# menjadi calon adalah hak setiap warga negara, walaupun dengan prestasi TERTINGGI sebagai bini pejabat.

# presiden juga begitu, padahal bini presiden selama Indonesia merdeka TIDAK pernah menjadi calon atau calon wakil bupati, gubernur, dan apalagi calon wakil presiden.

# karena rasa benci makanya anti sama praktik nepotisme. Wow. Jadi kita semua harus mencintai nepotisme? Mencintai bini orang?

Selanjutnya?

Mari kita tunggu badut badut nepotisme berakrobat, kita, sudah barang tentu, sambil ngopi dan tertawa terpingkal pingkal membaca argumen pembenaran dari para badut di medsos.

Saturday, July 18, 2020

Pilgub Kepri 2020 – Sabda Didengar, Rakyat Berbinar Binar

Isdianto dan Suryani (credit to KalbarOnline)

Setelah hiruk pikuk akan berpasangan dengan “istri orang,” yang notabene adalah meng-abadikan “nepotisme,” akhirnya Isdianto mendengarkan “sabda” rakyat, sabda langit.

Ini sekaligus sebagai “edukasi” politik yang bisa diselipkan saat kampanye dan temu masyarakat bahwa:
- siapa saja bisa menjadi peserta pilkada asal punya “track record” sebagai pejabat publik, bukan semata mata karena dia ibu rumah tangga dan istri orang (bini pejabat).

Terang benderang, Suryani pasangan Isdianto adalah anggota legeslatif, DPRD Kepri dari partai PKS, untuk maju di Pilgub Kepri 2020.

Dua periode terpilih sebagai anggota DPRD Kepri menunjukkan Suryani punya “jam terbang” yang sangat memadai dalam dunia politik Kepri.

Beberapa posting saya pernah menyinggung tentang Isdianto, mulai dari puja puji sampai ke kritik pedas, diantaranya adalah sbb:

Apa keunggulan dan bagaimana peluang MENANG pasangan Isdianto dan Suryani?
----------------------------------------------------------

Sudah saya tulis berkali kali tentang keunggulan sebagai “incumbent,” diantaranya:
- Menguasai logistik yang “melimpah”
- Bisa mengakses birokrat sampai ke desa, RT/RW
- Punya wewenang untuk berkoordinasi dengan aparat, baik Polisi, TNI, termasuk Babinsa soal keamanan pilkada.

Untuk kasus Isdianto, ini keunggulan berpasangan dengan Suryani dan kemudian didukung oleh PKS dan partai Hanura:
- Partai PKS mengantarkan Prabowo-Sandi meraup suara 52% umat Islam. PS kalah karena suara non-muslim.
- Hanura adalah partai nasionalis yang konstituennya terdiri dari semua etnis dan agama.

Mayoritas penduduk Kepri, dan orang Melayu Kepri yang muslim, ditambah demograpi Kepri yang multi-etnis dan multi-agama, merupakan peluang besar untuk Isdianto dan Suryani. PKS dan Hanura adalah kartu “as.”

Apakah semua sumber keunggulan ini bisa mengantarkan Isdianto dan Suryani menang Pilgub Kepri 2020? Mari kita tunggu.

Wednesday, July 1, 2020

Tentang Masa Kecil - Castle on the Hill

Salah satu danau di pinggir hutan, tempat anak dan temannya istirahat
setelah keluar masuk hutan.

Ketika anak bertanya tentang masa kecil, maka saya kasikan lagu “Castle on the Hill” oleh Ed Sheeran.

Lirik lagu dalam bahasa inggris:

When I was six years old I broke my leg
I was running from my brother and his friends
And tasted the sweet perfume of the mountain grass I rolled down
I was younger then, take me back to when I

Found my heart and broke it here
Made friends and lost them through the years
And I've not seen the roaring fields in so long, I know I've grown
But I can't wait to go home

I'm on my way
Driving at ninety down those country lanes
Singing to "Tiny Dancer"
And I miss the way you make me feel, and it's real
We watched the sunset over the castle on the hill

Fifteen years old and smoking hand-rolled cigarettes
Running from the law through the backfields and getting drunk with my friends
Had my first kiss on a Friday night, I don't reckon that I did it right
But I was…

Saya suka lagu ini dinyanyikan dalam video berikut Castle On The Hill
--------------------------------------------------------

Tak semua bait lagu sesuai dengan masa kecil, hanya ini bait bait yang saya alami, saya modifikasi dalam bahasa Indonesia:

- jungkir balik dari atas bukit sambil mencium bau rumput.
- berlari kencang di bibir pantai dan suka menyusuri anak sungai
- nonton tari, musik dan pernah tampil di atas panggung
- ngisap rokok gulung, dan mengeluarkan asap dari hidung.
- minum “spirit” sampai mabok
- menikmati “sunset” dari pelabuhan

- punya teman, ada yang jadi: penjual baju, bekerja di luar negeri, ada yang punya dua anak, dan ada pula yang kawin berkali kali.
---------------------------------------------------------------

Tidak ada dalam bait lagu:
- berenang seharian sambil mengintip ular laut kawin, kemudian disengat ampai (ubur ubur).
- menunggangi penyu di sungai, bukan main happy-nya, tapi ketika si penyu menyelam, langsung gelagapan, lemas mau mati.

Misteri TIDAK terjawab:
- Naik sepeda motor mati mesin, tengah malam buta, bulan purnama, tiba tiba datang perempuan cantik membawa bensin.

- Jam dua malam, keluar dari apartment di sebuah negara (bukan Indonesia, bukan Amerika), ada sosok rambut panjang berjalan, saya kejar agak berlari, ternyata jarak saya dan si rambut panjang tetap.
Merasa heran, lihat ke kakinya….. wow…. TIDAK ada kakinya.

# Ternyata, masa kecil saya (sampai hari ini) SANGAT indah, nggak sabar mau diceritakan ke cucu.
--------------------------------------------------------

Bagaimana dengan masa kecil anda? Apa saja yang INDAH dalam hidup anda?
- Kapan “first kiss?”…...

Tuesday, June 23, 2020

Pilpres 2024 – Dua Terbilang Dalam Timangan Istana


Ganjar dan Khofifah

Baru saja diumumkan pemenang “new normal,” dimana daerah yang dianggap “sukses” menangani Covid-19 dapat ganjaran dari istana.

Untuk level Propinsi, ada EMPAT hal menarik dari hadiah ini:

1) 6 dari 7 kategori jatuh ke tangan propinsi yang memenangkan Jokowi dalam pilpres 2019

2) Dua propinsi yang menjadi lumbung suara Jokowi, yaitu Jatim dan Jateng adalah diantara pemenang. Bahkan Jatim mendapat hadiah di dua kategori.

3) Dua propinsi, yaitu Jakarta dan Jabar TIDAK termasuk dalam daftar pemenang

4) Wanti wanti dari panitia:”Jangan PILIH pertahana yang Gagal Menangani Covid-19.” Anda pasti tahu arahnya ke mana.
--------------------------------------------------------
Posting saya tertanggal 12 June 2020: Pilpres 2024 – Akankah Giliran Jawa Barat?

Dalam kolom komentar, ada saya sebutkan bahwa Gubernur Jawa Timur lebih “menggiurkan” ketimbang Jawa Tengah. Dua hadiah untuk Jawa Timur “membuktikan” “benarnya” komen saya.

Khofifah adalah “anak manis”, dari menteri diizinkan Jokowi untuk ikut pemilihan gubernur, dan MENANG. Balasan Khofifah, memenangkan Jokowi.

Padahal, menurutkan teman yang bekerja di salah satu lembaga penelitian di Singapura, “exit poll” yang dia lakukan menunjukkan angka “imbang” antara Jokowi dan Prabowo.

Soal suara di Jatim, ada saya buat coretan dengan judul:”Angka yang Janggal di Jatim.”

Tapi, saya dan teman TIDAK berani menyimpulkan bahwa hasil Pilpres 2019 apakah Sah atau TIDAK SAH. Kenapa? Lain kali saja dibahas.
-----------------------------------------------------------------

Terus, apa maksudnya dengan judul: “Pilpres 2024 – Dua Terbilang Dalam Timangan Istana?”

Ada apa dengan Jabar dan DKI?
---------------------------------------------------------------

Ada istilah “stick and carrot” dalam politik. DKI dan Jabar mendapat “gebukan” dari istana.

Untuk DKI, pasti sudah bisa anda raba raba. Sedangkan Jabar, sudah saya komen di posting sebelumnya bahwa RK mempermalukan presiden, kalah dua kali berturut turut di wilayahnya. “Anak tak tahu diuntung!”
----------------------------------------------------

Presiden negara mana saja punya keinginan agar warisan “kebijaksanaannya” dan dirinya sendiri (beserta keluarga) aman aman saja setelah tidak menjabat.

Memang benar, selama Ganjar gubernur, tidak ada yang menonjol di Jateng. Tapi jabatan Ganjar masih ada sekitar 3 tahun, masih punya kesempatan untuk “menarik” perhatian publik.

Jika memang Ganjar menjadi anak “timangan” Jokowi, maka beliau akan mendapat jabatan di seputar istana sekitar tahun 2023 nanti. Berpeluang untuk tampil di panggung nasional.

Khofifah sendiri masih punya waktu panjang juga, ada 4 tahun sampai 2024 nanti. Banyak hal bisa dikerjakan untuk “mencuri” perhatian nasional.

Gabungan SUARA dari propinsi Jatim dan Jateng, terbukti menjadi KUNCI kemenangan 4 kali pilpres di era reformasi.

Kita tunggu saja pesta demokrasi 2024 nanti!

Friday, June 12, 2020

Pilpres 2024 – Akankah Giliran Jawa Barat?

Susi dan AHY sedang berbincang

Benar, masih terlalu jauh bicara Pilpres 2024, ini hanya coretan imajinasi saja. Sekedar iseng kala “carut marut” pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Jika anda menyimak pilgub DKI 2017, salah satu poling yang “menggemparkan” adalah Susi Pudjiastuti berada di posisi atas.

Soal ini pernah ditulis di Kompasiana oleh seorang teman, saya memberi komentar kira kira: “Buk Susi lebih dibutuhkan pada posisi menteri, kemungkinan besar beliau tidak diizinkan presiden untuk maju di pilgub DKI 2017.”
---------------------------------------------

Terus...apa hubungannya dengan judul: Pilpres 2024 – Akankah Giliran Jawa Barat?

Dan apa pula hubungannya dengan AHY?

Dari presiden yang “TERPILIH” atau DIPILIH oleh PPKI, MPRS, MPR atau oleh rakyat langsung, TIDAK termasuk yang MENGGANTIKAN presiden sebelumnya (BJ Habibie dan Megawati), mereka berasal dari:

- Sukarno : Jatim
- Suharto : Yogyakarta
- Gus Dur : Jatim
- SBY : Jatim
- Jokowi : Jateng

Sedangkan jumlah daftar pemilih presiden 3 besar Indonesia, berdasarkan data tahun 2019:
- Jawa Barat : 33 juta
- Jawa Timur : 30 juta
- Jawa Tengah : 28 juta

Ada dua catatan penting dari data 3 besar pemilih tersebut:
Catatan 1 - Belum ada presiden dari Jawa Barat semenjak Indonesia merdeka, padahal Jabar adalah pemilik suara terbesar di Indonesia.

Catatan 2 – Berdasarkan “teori peluang,” kombinasi Jabar dan Jatim memiliki suara TERBANYAK yaitu 63 juta pemilih.

Sudah bisa anda TEBAK, siapa dan dari daerah mana kombinasi yang BERPELUANG paling BESAR untuk menang pilpres 2024.

Keunggulan Susi adalah berpengalaman di pemerintah, dan TIDAK usah ditanya“asam garamnya” di sektor swasta. Dan tercatat sebagai salah satu orang kaya Indonesia dengan duit triliunan rupiah

AHY sendiri, meskipun NOL pengalaman di pemerintahan, ya, paling tidak, sangat mengerti seluk beluk militer.

Menariknya, kedua orang ini punya STAMINA luar biasa. Susi Pudjiastuti adalah pemegang “license to flight” dari Florida, USA.

Kemudian, anda pasti tahu bahwa AHY bisa berlari 10 km dengan beban di pundak, serta berjalan kaki dari pagi sampai sore tanpa lelah.

Jika mereka maju pilpres, maka kampanye 2024 akan riuh rendah, karena mereka bisa berada di titik manapun di Indonesia, tanpa letih!

Siapa kira kira pasangan pilpres 2024 lainnya?

Stay tune!