Sawan Fibrosis: Pilpres 2024
Showing posts with label Pilpres 2024. Show all posts
Showing posts with label Pilpres 2024. Show all posts

Monday, August 29, 2022

Hasrat Jokowi 3 Periode yang Tidak Kunjung Padam

Saya melihat keinginan Jokowi untuk 3 periode dari sisi Puan Maharani (Megawati), sementara Rocky Gerung (pejuang demokrasi Indonesia) melihat dari sisi Jokowi.



Fig 01- Keinginan jelas Jokowi untuk 3 periode.

Sudah berkali kali saya “komen” tentang Jokowi 3 periode ditentukan oleh Puan dan Megawati, terakhir tanggal 21 Agustus 2022, minggu lalu.

“…. kalau Puan Maharani merasa terpojok, sangat mungkin dia akan berbalik arah mendukung Jokowi 3 periode.... # lebih aman menjadi Wapres Jokowi ….”

Sementara Rocky Gerung, ketika ada pernyataan Jokowi bulan Mei 2022, sekitar 4 bulan lalu yang berbunyi:”….. Ojo Kesusu …..” langsung menterjemahkannya sebagai “Keinginan KUAT Jokowi untuk 3 periode.”

Bukan dukungan Jokowi terhadap Ganjar Pranowo. Tidak sama sekali.

Terus?



Fig 02- Jokowi, Megawati dan Puan (credit to BeritaSatu)

# Posting penting:



Fig 03- Outlet Levis, luar kota

Intinya bahwa keinginan untuk 3 periode itu memang dari Jokowi, dan hasrat bisa terwujud jika disetujui oleh Megawati.

Pemahaman dan spekulasi berikutnya adalah jika posisi Puan “terjepit,” yang diindikasikan oleh:

- rendahnya “polling” atau tidak konsisten masuk 5 besar.
- kurang dapat dukungan suara dari bawah, setelah kunjungan seluruh Indonesia.

Sehingga, Puan Maharani tidak punya pilihan TERBAIK lain, kecuali menjadi Wapres Jokowi.

Maka, Sim Salabim…. Adakadabra!!

# Posting sebelumnya:

Sunday, August 21, 2022

Apakah Anies Baswedan akan Bernasib Sama Seperti Gatot Nurmantyo?

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 2022, ada komen saya di medsos tentang Anies Baswedan.



Fig 01- Masa jabatan Anies Baswedan (credit to Liputan 6).

Kutipan komen tersebut:”Masa jabatan Anies Baswedan akan berakhir bulan Oktober tanun ini, 2022..... # Pilpres itu berlangsung tahun 2024..... ngapain Anies sepanjang tahun 2022 sampai 2024?”

Kemudian saya lanjutkan:”Hasil polling Anies Baswedan biasa biasa saja..... bahkan kesulitan untuk berada di puncak..... # kenapa posisi Capres PDIP harus diberikan ke Anies?..... dia bisa dikalahkan oleh siapa saja.”

Bukan hanya Anies, bahkan Prabowo dan Ganjar atau Ridwan Kamil bisa “dikalahkan,” sekaligus juga punya peluang sama untuk “menang.”

Kenapa?



Fig 02- Topeng, hanya ilustrasi

# Posting informatif:



Fig 03- Kerumunan, hanya ilustrasi

Pertama, posisi capres di polling selalu “gonta ganti,” TIDAK ada seorang caprespun konsisten berada di posisi 1, 2, 3, 4 atau 5.

Di suatu polling berada di posisi dua misalnya, tetapi di polling yang lain bisa berada di posisi 1 atau bahkan “tercampak” keluar dari top 3.

Kedua, masih dalam kontek polling, terutama tahun 2014, tidak ada yang seperti presiden Jokowi yang selalu berada di posisi 1 dan memimpin “double digit” di setiap polling yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga survei.

Bahkan, di suatu survei, Jokowi pernah mencapai angka “magic number,” yaitu 51%, sementara lawan terdekatnya cuma 26%. Sisa 33% terbagi kepada beberapa capres.



Fig 04- Hanya ilustrasi

# Mengingat kembali:



Fig 05- Kehijauan di sebuah sudut

Kondisi polling Jokowi menyebabkan Aburizal Bakri, ketum Golkar saat itu memilih “mundur” menjadi capres 2014. Diikuti oleh capres lainnya, kecuali Prabowo Subianto.

Kemudian, apa hubungan antara nasib Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo?

Ketika masih memegang jabatan formil sebagai Pangab ABRI, nama Gatot Nurmantyo selalu disebut sebut sebagai presiden setelah Jokowi. Di polling, beliau berada di posisi puncak atau top 3.



Fig 06- Peringatan tidak membuang sampah di danau

Setelah pensiun, pelan pelan nama Gatot menghilang, beliau muncul hanya ketika peringatan G30S PKI.

Sekarang?

Nama Gatot sudah tidak disebut sebut sebagai capres potensial partai apapun. Di setiap hasil polling yang saya amati, nama Gatot hanya sekali masuk top 10 dalam 3 bulan terakhir.

Bagaimana dengan Anies Baswedan?

Mari kita amati hasil polling setelah 3 bulan atau 6 bulan Anies Baswedan tidak menjabat gubernur DKI. Apakah lebih baik dari Gatot Nurmantyo?

# Posting sebelumnya:

Friday, July 8, 2022

Semua Presiden Indonesia adalah Kader Partai Politik

Sejak Indonesia merdeka, 1945 sampai hari ini, semua presiden Indonesia yang jumlahnya 7 (tujuh) orang adalah kader partai politik.

Tidak percaya?



Fig 01- Tujuh presiden Indonesia (credit to Solopos)

Mari kita simak satu persatu:

1) Sukarno, kader PNI (Partai Nasional Indonesia)
2) Suharto, kader Golkar
3) BJ Habibie, kader Golkar
4) Abdul Rahman Wahid, kader PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
5) Megawati Sukarno Putri, kader PDI-P
6) SBY, kader partai Demokrat
7) Joko Widodo, kader PDI-P



Fig 02- Bunga liar, hanya ilustrasi

Bagaimana dengan negara lain seperti Amerika Serikat?

Semua presiden Amerika Serikat adalah kader partai politik, kalau tidak Demorat, ya, partai Republik.

Kekecualian hanya terjadi pada George Washington, presiden pertama, karena dia ingin rakyat Amerika Serikat bersatu padu sebagai negara yang baru merdeka.



Fig 03- Ranting dan bunga merah

Dan apa implikasinya dalam Pilpres Indonesia 2024?

Ya, jelas ada dong, yang akan jadi Capres dan Presiden 2024, Insya Allah akan datang dari kader partai politik.



Fig 04- Bunga Plumbago, sedang mekar

Sudah jelas, koalisi Gerindra dan PKB AKAN mengusung kader partai politik, Prabowo Subianto dan Muhaimin Iskandar.

Idem dito, terang benderang, PDI-P juga akan mengusung kadernya sebagai Capres, apakah Puan Maharani atau Ganjar Pranowo.

Partai partai lain?

Masih morat marit, kalang kabut dan tunggang langgang menentukan koalisi dan mengusung Capres dan Cawapres 2024.

Ujung ujungnya bisa saja berlabuh di PDI-P atau malah “mengemis” ke Gerindra dan PKB yang sudah punya jago. Siapa takut?

# Posting sebelumnya:

Tuesday, June 7, 2022

Puan Maharani Lebih Populer Setelah Menggebuk Ganjar Pranowo

Menurut survei yang dilakukan oleh Indonesia Political Opinion (IPO) baru baru ini bahwa Puan Maharani lebih populer dari Ganjar Pranowo.



Fig 01- Foto selfie Puan dan Anies

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari efek “gebukan” Puan terhadap Ganjar berkali kali, mulai dari soal kasus Wadas sampai ke masalah kemiskinan di Jawa Tengah.

Untuk kasus Wadas, bisa dibaca posting sebelumnya:

Kemudian, apa maknanya untuk perpolitikan Indonesia?



Fig 02- Jateng Miskin, kata Puan (credit to Keuangan News)

Pertama, rakyat mulai mengamati gerak gerik politisi secara seksama. Pilah pilah, dan kemudian ketika akan menentukan pilihan di Pilpres 2024 yang dilihat diantaranya adalah faktor faktor:

- prestasi, bukan semata mata pencitraan saja.
- visi ke depan Indonesia, apakah akan tetap menjadi bangsa kuli atau tuan.

Tentu, banyak sekali faktor faktor lainnya yang juga akan menjadi pertimbangan seperti kedekatan kultur, dari partai mana dan sebagainya.

Dan masih belum bisa dilepas dari faktor UANG.



Fig 03- Buah liar, hanya ilustrasi

Kedua, sampai hari ini, berdasarkan hasil survei dari semua lembaga survei, belum ada capres yang meyakinkan.

Top 3 atau top 5 elektabilitas capres masih saling bergonta ganti. Belum ada yang memimpin “double digit” seperti Jokowi di pilpres 2014. Semuanya berpeluang untuk menang di 2024 nanti.

Ketiga, hasil survei Puan lebih populer dari Ganjar semakin memantapkan pengurus PDIP pusat untuk “mengelus” Puan Maharani sebagai Capres dari PDIP tahun 2024.

Mari kita tunggu perkembangan berikutnya!

# Posting sebelumnya:

Thursday, May 26, 2022

Erick Thohir dan Ridwan Kamil Punya Potensi Suara Terbesar di Pilpres 2024

Berkenaan dengan “peluang” Erick Thohir di capres 2024, bisa anda baca dua posting sebelumnya:

- Erick Thohir - Top 3 Capres 2024 Pilihan Warga NU

- Erick Thohir dan Gibran Rakabuming – Pepeng, Jawa dan Nama Arab



Fig 01- Ridwan Kamil dan Erick Thohir (credit to Setneg Wapres)

Jika mereka (Erick - Ridwan) bersanding di Pilpres 2024, maka secara angka, mereka berpotensi meraup suara TERBESAR.

Potensi suaranya sebesar: 119 (Seratus Sembilan Belas) juta suara.

Bandingkan dengan jumlah penduduk di 3 Jawa (Jateng, Jatim dan Jogyakarta) yang hanya sebesar 82 (Delapan Puluh Dua) juta jiwa.

Bagaimana jalan ceritanya dan bagaimana pula datangnya angka angka tersebut?



Fig 02- Sampul sebuah novel, hanya ilustrasi

Pertama, Erick Thohir berasal dari Sumatra, dan masih pagi buta sudah ada kepala daerah di Sumatra yang bersedia menjadi tim sukses.

Sejak Indonesia merdeka, BELUM ada putra asal Sumatra yang jadi presiden Indonesia. Bahkan di era reformasi, belum ada yang jadi wakil presiden.



Fig 03- Bunga Gardenia di belakang rumah.

Kedua, senasib dengan Sumatra, putra daerah Jawa Barat juga BELUM pernah memegang jabatan presiden. Idem dito, belum ada yang jadi wakil presiden di era reformasi.

Benar, wapres Makruf berasal dari Banten, punya kedekatan kultur dengan Jabar, tapi beliau TIDAK pernah mengabdi sebagai pejabat publik yang dipilih oleh masyarakat Jabar.

Toh, beliau berasal dari Banten.



Fig 04- Hanya sekedar ilustrasi

Memang sudah ada presiden dari luar Jawa, yaitu BJ Habibie. Tapi, beliau bukan dipilih. Hanya menggantikan posisi Suharto yang mengundurkan diri.



Fig 05- Jagung, siap dibakar

Ketiga, potensi suara 119 juta itu datangnya dari 3 lokasi dengan jumlah penduduk sebagai berikut:

- Sumatra, 59 juta jiwa
- Jabar, 48 juta jiwa
- Banten, 12 juta jiwa



Fig 06- Harga barang konsumsi yang terus menjulang

Seandainya, Erick Thohir dan Ridwan Kamil memiliki tim sukses yang di dalamnya ada pakar komunikasi.

Dan kemudian, pakar komunikasi tersebut mensosialisasikan serta mengkomunikasikan ke rakyat 3 lokasi di atas, ada kemungkinan rakyat akan berapi api dan “all out” untuk memenangkan pasangan ini.

Siapapun capres yang datangnya dari 3 Jawa (Jateng, Jatim, Jogyakarta) akan berhadapan dengan BADAI raksasa. Bisa pontang panting di Pilpres 2024.

Selain dari 3 lokasi, apakah Erick dan Ridwan berpeluang meraup suara dari lokasi lain?

# Posting sebelumnya:

Thursday, April 14, 2022

Berdasar Ilmu POKOK- Megawati Presiden Jika Jokowi Dilengserkan– Psikologi 28

Terbukti apa yang saya tulis:”Jadi, jika anda buka jendela tanggal 12 April 2022, hampir pasti (99% bisa dipercayai), Jokowi masih presiden Indonesia!!”

Silahkan baca postingnya:



Fig 01- Megawati diapit Puan dan Jokowi (credit to Tribun)

POKOKnya Jokowi harus turun.”

Bagaimana caranya? Dilengserkan?

POKOKnya turun. Titik.”

Berdasarkan UUD 45, berarti Ma’ruf Amin yang menggantikan. Dia sudah renta”

POKOKnya dua duanya harus ganti.”

Tahukah anda implikasinya, kalau dua dua diganti?

Berdasarkan ilmu POKOK, mari kita lihat kemungkinan, siapa yang BERPELUANG paling besar jika Jokowi -Ma’ruf diberhentikan di tengah jalan.



Fig 02- Hanya sekedar ilustrasi

Dari sejarah kepresidenan di Indonesia, hanya dua orang saja yang dilengserkan atau diberhentikan:

- presiden Sukarno
- presiden Gus Dur

Baik saat Sukarno maupun Gus Dur, tidak terjadi penyerahan kekuasaan kepada tiga orang menteri:

- Menteri Luar Negeri
- Menteri Dalam Negeri
- dan Menteri Pertahanan

Pada saat pelengseran Sukarno, kekuasaan langsung diserahkan kepada pihak yang DOMINAN di MPR/DPR, yaitu MILITER atau TNI AD.

Suharto adalah petinggi militer paling dominan saat itu.



Fig 03- Sudut di neighborhood

Selanjutnya, ketika Gus Dur diberhentikan, partai politik terbesar dan pemenang pemilu adalah PDI-P.

Megawati adalah ketum PDI-P dan sekaligus wapres saat itu.

Kemudian, siapa yang akan menggantikan Jokowi dan Ma'ruf jika dilengserkan?

Anggota DPR yang mayoritas PDI-P, dan ketuanya sekaligus kader PDI-P akan all out memilih Ketumnya sebagai presiden.

Ya, Megawati yang akan menggantikan presiden Jokowi!

Wapresnya bisa dari Golkar atau Gerindra!

Itulah kira kira hasil dari ilmu POKOK, jika Jokowi dan Ma’ruf dilengserkan secara paksa.

# Posting sebelumnya:

Monday, February 14, 2022

Tidak Becus di Wadas - Akankah Ganjar Pranowo Dilibas?

Dalam rapat PDIP secara IMAJINER, Puan Maharani khusus memanggil Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Pacul beserta jajarannya.

Terjadilah dialog IMAJINER antara Puan dan Pengurus DPD PDIP Jawa Tengah sebagai berikut:



Fig 01- Kekesalan Puan ditujukan ke Ganjar? (credit to Detik)

Anda tahu, apa yang terjadi di Wadas, Purworejo?”

Nggeeh…..

Cuma satu desa, sekali lagi, cuma satu desa TIDAK becus diurus seorang gubernur. Konon pula mau menjadi presiden RI”

Nggeeh…..

Ngapain dia selama bertahun tahun?”

Anu buk…. Eee…. Anu buk Puan!

Anu….anu…. anu apaan?”



Fig 02- Tentara KNIL (bayaran Belanda) menyerang Wadas
(credit to Gump n Hell)

Pokoknya anu buk Puan!

Bukti…. Saya tekankan bahwa ini bukti kalau dia TIDAK becus!”

Nggeeh…..



Fig 03- Masyarakat desa Wadas (credit to Wadas Melawan)

Sebutkan apa prestasi beliau?”

Naik sepeda…. Kring kriing kriiing…..

Apalagi?”

Terjatuh….

Terus?…..”

Nonton video….

Video apaan? …. !”

Video yang begitu begituan buk Puan.

Sudah…. Sudah…. rapat saya tutup….. tok tok tok….”

Puan terlihat menelpon seseorang, terdengar sedang serius membincangkan kemungkinan memberikan sangsi KERAS kepada petugas partai yang TIDAK becus.



Fig 04- Ternyata Ganjar main di sosmed sejak tahun 2016 
(credit to PDIP melalui detik)


Catatan:

1) Puan Maharani sudah mendapatkan dukungan verbal dari pengurus DPD PDIP tiga Jawa: Jateng, Jatim dan Jogyakarta

2) Polling terakhir dari 7 lembaga survei menunjukkan Ganjar Pranowo tidak selalu berada di posisi puncak, bahkan ada polling yang menunjukkan Ganjar hanya berada di posisi ke 3 dan ke 5.

- artinya Ganjar Pranowo bisa dikalahkan oleh siapapun dalam Pilpres 2024.

3) Posisi Puan sebagai ketua DPR akan berakhir setelah Pilpres 2024, sementara jabatan gubernur Ganjar akan berakhir sebelum pilpres, tahun 2023.

- Puan Maharani berada di atas angin.

4) Kerumunan kampanye dan survei copras capres BUKAN penentu memenangkan pilpres di negara manapun:

- Di Amerika, Bush Jr dan Donald Trump kalah di survey dan sepi kampanye, tapi menang Pilpres

- Di Indonesia, Jokowi sepi kampanye tahun 2019 (Sawan Fibrosis: Pilpres 2019- Kenapa Jokowi “Unggul” di Desa?)