Saturday, September 21, 2019

Muka Badak Dicinta, Sumatra Punya Badak pun Punah

Badak dan Hutan Dibakar

Anda pasti tahu istilah “MUKA BADAK.” Benar, kata Muka Badak ditujukan kepada orang orang yang melakukan kesalahan secara berulang ulang, tapi TIDAK MALU.

Si Muka Badak ini, bukan hanya Tidak Tahu Malu, tapi juga sakti: KEBAL terhadap apapun seperti KULIT Badak.

Entah kenapa pelaku pembakaran hutan yang meluluh lantakkan hutan tropis ini dapat perlakuan ISTIMEWA.

Bahkan, ketika negara tetangga PROTES karena asap hutan yang terbakar, tiba tiba ada suara NYARING membela: loh, kan pembakar hutan itu dari negara anda!!
-----------------------------------------------

Orang yang MEMBELA, melindungi sekaligus mencintai si Muka Badak ini, kira kira disebut apa ya?:
- Muka Badak juga?
- Mbah Muka Badak?

Soalnnya bukan hanya Tidak Tahu Malu, tapi malah memelihara PEMBAKAR rumahnya sendiri.

Apa? Rumah? Rumah sendiri?

Ya, ibarat rumah sendiri didatangani MALING (mengambil harta kekayaan hutan), kemudian MEMBAKARnya pula
-----------------------------------------------------------

Apa hubungan kebakaran hutan dengan Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)?

Bayangkan saja panjang pulau Sumatra itu 1790 km, luasnya 47 juta hektar, hampir dua kali pulau Jawa.

Tapi, jumlah Badak Sumatra tinggal 80 ekor saja. Ini data dari WWF dan International Rhino Foundation.

Angka ini turun dari tahun ke tahun. Hutan yang DIBAKAR setiap tahun adalah salah satu sebab Badak Sumatra hampir PUNAH.
------------------------------------------------

Tahun 2008, ada 50 ekor Badak liar di Kalimantan, setalah 7 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2015 dinyatakan PUNAH.

Sudah TIDAK ada Badak Liar di Pulau Kalimantan (Silahkan baca The Star).

Setelah Punah di Kalimantan, hanya menghitung hari saja akan juga PUNAH di Sumatra.
----------------------------------------

Ketika Badak PUNAH, yang tersisa hanya MUKA BADAK dan MBAH MUKA BADAK!!

Tuesday, September 10, 2019

Pilgub Kepri 2020 - Bersaing, Bergandeng atau Bertahan?

Kepala daerah tingkat 2

Fakta penguasaan logistik (anggaran) dan birokrasi sampai ke tingkat desa adalah indikasi kuat pilgub Kepri dimenangkan oleh “incumbent” tiga kali berturut turut.

Dengan “framing” ini, maka yang berpotensi untuk mengalahkan “incumbent” adalah ekskutif tingkat dua (bupati dan walikota).

Sudah kita bahas peluang Walikota Batam dan Bupati Karimun di tulisan sebelumnya. Pembahasan juga termasuk peluang berdasarkan jumlah penduduk atau DPT.

Pertanyaannya kemudian, siapa lagi yang berpotensi menang lawan “incumbent?” Ini dia:
- Syahrul, Walikota Tanjung Pinang dengan DPT: 145 ribu
- Apri Sujadi, Bupati Bintan dengan DPT: 98 ribu

Keunggulan dua orang ini adalah memperoleh jabatan mereka dengan suara pemilihan langsung.

Bahkan Syahrul dua kali ikut pilwako (sebagai wakil dan walikota) secara langsung. Selain Pilkada, Apri Sujadi juga ikut pileg tingkat propinsi.

Mereka punya pengalaman dalam menjalankan strategi untuk menarik suara konstituen secara langsung.

Keistimewaan lain, kedua mereka adalah juga ketua partai politik, Gerindra dan Demokrat.

Masa sih cuma keunggulan? Apa kelemahan mereka?:
- Ya, kembali lagi ke soal logistik dan penguasaan birokrasi se propinsi Kepri
- Jika digabung suara DPT Bintan + Tanjung pinang, hanya 243 ribu (Bandingkan dengan Batam yang 638 ribu).

Teori evolusi (Chales Darwin), Psikologi (Sigmund Freud) dan ekonomi (klasik maupun moderen) menyatakan bahwa orang yang selamat atau yang menang adalah mereka mereka yang RASIONAL.

Jadi, apa RASIONALISASI Syahrul dan Apri Sujadi dalam konteks Pilgub Kepri 2020?
- Tidak akan BERSAING dengan Incumbent.
- Kemungkinan, hanya mau BERGANDENG dengan incumbent.
- Lebih menggiurkan dengan posisi BERTAHAN seperti sekarang sampai dua periode (Raja di raja di wilayah tingkat 2).

Selanjutnya, ada banyak nama nama beredar di masyarakat sebagai calon gubernur Kepri, diantaranya:
- Huzrin Hood
- Ismeth Abdullah
- Ansar Ahmad
- Soerya Respationo

Kita akan bahas sejauh mana peluang mereka di pilkada Kepri 2020 pada tulisan berikutnya.