Sawan Fibrosis: Akankah Kapitalisme Mati? – Tibak 2

Friday, June 10, 2022

Akankah Kapitalisme Mati? – Tibak 2

Tidak ada yang abadi di bawah matahari kata orang orang bijak. Semuanya berganti dari waktu ke waktu.

Ada yang berevolusi lebih baik, banyak yang punah ranah ditelan murka bumi.



Kapitalisme yang tenggelam (credit to Peace innovation institute)

Kapitalisme sendiri pernah sempoyongan, bahkan sekarat. Penyebabnya “great depression” panjang, 10 tahun lebih.

Pengangguran bisa ditemui di mana mana sudut Amerika, dari New York sampai Florida, dari California ke daerah koboi, Texas. Merata tanpa kecuali.

Paman Sam hampir tanpa nafas, antara hidup dan mati. Lunglai, tak bermaya.

Keynes, tepatnya John Maynard Keynes, ekonom Inggris berteriak:”Kapitalisme sakit parah. Ini obatnya!”

Depresi ekonomi karena tidak ada “demand.” Perlu “suntikan” pemerintah dengan “government spending.”

Kaedah dimana pasar menyelesaikan masalahnya dengan sendiri tanpa campur tangan penguasa dilanggar.

Dengan duit pemerintah, rakyat harus dikasi kerja, dan kemudian digaji.

Gaji untuk pekerjaan apa?

Mengangkat batu. Memindahkan batu dari tepian sungai ke tepian sebelahnya.

Pekerjaan yang tak berguna.

Untuk apa?

Agar rakyat punya penghasilan, dan daya untuk membeli.

Membeli apa saja. Sehingga sisi “supply” terangkat. Pabrik merangkak beroperasi, dan Kapitalisme sadar dari pingsan.

Apakah selesai?

Dan Kapitalisme akan abadi?

Tidak, kata Paul Krugman, pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2008. Benar, kapitalisme masih yang terbaik sampai detik ini. Dunia dibanjiri produk Kapitalisme.

Resesi adalah virus Kapitalisme. Muncul seperti pandemi. Tidak ada vaksin yang mumpuni. Menggerogoti tubuh Kapitalisme tak berperi.

Tahun 2035, satu dekade dari sekarang, Kapitalisme masih berkibar. Kata Paul Krupman di salah satu “op-ed,” The New York Times.

Setelah itu?

Tidak ada yang tahu. Wallahualam!

# Posting sebelumnya:

12 comments: