Sunday, March 22, 2020

Pengalaman Pribadi - Menemukan Obat Anti Virus

Virus, credit to Harvard University

Jika anda jeli membaca profil di salah satu blog saya, ada saya cantumkan “kepakaran” di bidang ecology dan microbial diseases.

Ada tiga paper ilmiah saya yang berkenaan dengan penyakit, dua diantaranya diseminarkan secara internasional.

Salah satu seminar dihadiri oleh anggota “Royal Swedish Academy of Science,” dimana mayoritas juri Hadiah Nobel berasal dari organisasi ini.

Saya, tentu saja tidak dalam posisi sebagai calon pemenang hadiah Nobel, ya, jauh panggang dari api.

Takkan pernah saya lupakan adalah dialog antara saya dan juri Hadiah Nobel:
Juri hadiah Nobel: “kamu percaya penyakit, bakteri atau virus bisa meregulasi populasi mahluk hidup?”
Saya: “ya, tentu saja”

Juri hadiah Nobel: “apakah mahluk hidup bisa punah karena penyakit?”
Saya: “TIDAK”

Juri hadiah Nobel: “loh, kamu bilang penyakit bisa meregulasi populasi.”
Saya: “Ya, tapi takkan sampai punah”

Juri hadiah Nobel: “Kenapa?”
Saya: “Karena hanya penyakit (bakteri atau virus) yang BODOH akan memusnahkan mahluk hidup!!”

Juri hadiah Nobel (menatap saya dengan mata tidak berkedip, merasa heran dengan jawaban saya): “sekali lagi, kenapa?”
Saya: “mereka, penyakit itu (bakteri atau virus) juga akan turut PUNAH!!”
---------------------------

Terus, apa hubungannya dengan pengalaman saya “Menemukan Obat Anti-Virus?”

Salah satu dari tiga paper ilmiah saya yang berhubungan dengan penyakit adalah tentang obat anti-virus. Untuk menemukan obat tersebut memakan waktu sangat lama. Hampir dua tahun.

Saya hanya sekedar ingin menyampaikan bahwa menemukan obat, termasuk Covid-19 melalui langkah langkah tertentu. Bukan pekerjaan sehari dua hari.

Jika ada berita berita vaksin Covid-19 sudah ditemukan, ya, artinya hoax. Ngecap dari penjual obat, agar obatnya laku.

Sederhananya begini (sengaja saya ringkas, agar mudah dimengerti untuk pembaca sekelas medsos):
- Saya mencari “calon obat” dari alam, try and error. Memakan waktu setahun

- kemudian calon obat tersebut diekstrak pakai “centrifuges.”

- Setelah itu dites keampuhannya terhadap berbagai jenis penyakit (bakteri dan virus) di laboratorium. Proses ini memakan waktu sekitar 6 bulan

- Dilanjutkan ke uji coba terhadap hewan yang sakit.

Dan berhasil!!

8 comments:

  1. Semoga vaksin korona cepat ditemukan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you to visit:
      Pengalaman Pribadi - Menemukan Obat Anti Virus

      Virus, credit to Harvard University

      Delete
  2. Semoga keberhasilan penemuan vaksin covid-19 segera ditindaki dan segera disebarkan ke seluruh negara.
    Agar benar-benar berhenti wabah skala dunia ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you to visit:
      Pengalaman Pribadi - Menemukan Obat Anti Virus

      Jika anda jeli membaca profil di salah satu blog saya, ada saya cantumkan “kepakaran” di bidang ecology dan microbial diseases.

      Delete
  3. Nah kmrn heboh katanya obat covid-19 sudah ditemukan dan mau dibeli. Trs para ahli ramai, akhirnya diralat kembali.

    suka bingung dengan politisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you to visit:
      Pengalaman Pribadi - Menemukan Obat Anti Virus

      Ada tiga paper ilmiah saya yang berkenaan dengan penyakit, dua diantaranya diseminarkan secara internasional.

      Delete
  4. Iya sedihhhh bgt kondisi dunia lg kaya sekarang. Huhu
    Semoga ada ilmuan yg bisa menemukan vaksin covid 19

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ditemukan "kandidat" vaksin, sekarang sedang uji coba klinik.

      Thank you to visit:
      Pengalaman Pribadi - Menemukan Obat Anti Virus

      Salah satu seminar dihadiri oleh anggota “Royal Swedish Academy of Science,” dimana mayoritas juri Hadiah Nobel berasal dari organisasi ini.

      Delete